Iklan

FAKSI : Dimasa Pandemi Covid-19, Pemerintah Harus Memperhatikan Nasib Perantau

REDAKSI
5/17/20, 15:00 WIB Last Updated 2021-03-20T11:04:41Z
Ronny Hariyanto

NOA | Banda Aceh - Aktivis Front Anti Kejahatan Sosial (FAKSI) Aceh, Ronny Hariyanto, mengatakan bahwa para perantau Aceh, khususnya Aceh Timur, di Malaysia dan berbagai negara lainnya adalah para pejuang ekonomi, yang mampu memberi konstribusi positif bagi Aceh, khususnya  problem kemiskinan yang menganga di Aceh selama ini.

Untuk itu, putera Idi Rayeuk, Aceh Timur, berdarah Aceh-Minang ini berpendapat, sudah selayaknya pemerintah di seluruh tingkatan di Aceh, memikirkan nasib mereka, terutama ketika mengalami kesulitan di masa darurat Covid 19 ini.

"Mereka itu pejuang ekonomi bagi Aceh, setidaknya bagi keluarga mereka masing-masing, uang hasil jerih payah mereka di sanakan dikirim ke kampung halamannya masing-masing, lantas keluarga mereka membelanjakannya di Aceh, itu terbukti mendorong perputaran ekonomi, sebab uang dari luar beredar di Aceh, jadi seharusnya mereka diprioritaskan, apalagi mereka dalam kesulitan saat ini," kata Ronny, Minggu (17/5/2020).

Ronny menambahkan perjuangan para perantau tersebut mestinya dihargai setinggi - tingginya, bukan malah terkesan didiskriminasi atau dianggap warga kelas dua di Aceh. "Jadi sangat lucu logikanya,  jika pemerintah lebih memikirkan dan memanjakan perusahaan-perusahaan yang mengeruk untung besar di Aceh, lalu  membawa terbang uang ke luar Aceh, ketimbang putra-putri perantau Aceh,” sebutnya.

Apapun ceritanya, lanjut Ronny, mereka adalah warga Aceh, punya hak yang sama di Aceh ini, bukan warga kelas dua, mau dia masuk negeri jiran secara legal atau ilegal, itu harusnya menjadi tanggungjawab negara untuk mengatasi kesulitannya. 

“Mereka berkorban pergi merantau ke berbagai negara dikarenakan tidak tersedianya lapangan kerja di negeri ini, sebab keterbatasan kemampuan negara memfasilitasinya,  jadi pengorbanan dan perjuangan mereka selama ini persis sebagai upaya mengatasi lapangan kerja dan kemiskinan, masak itu tidak dihargai," ungkap aktivis HAM tersebut.


Ronny sangat menyayangkan, jika ada pihak-pihak yang seakan menganggap enteng urusan para perantau atau bahkan memandangnya sebelah mata.

“Inilah konyolnya kita, tidak memahami hakikat dari eksistensi mereka sebagai perantau, dan konstribusi mereka terhadap daerah atau negara, padahal warga daerah lain atau negara lain, sangat menghargai para perantaunya, yang sangat berkonstribusi bagi pembangunan suatu daerah bahkan negara," ketusnya.

Eks Ketua Forum Pers Independen Indonesia (FPII) Provinsi Aceh itu juga merasa sangat terheran - heran atas lambannya pemerintahan di Aceh, khususnya Aceh Timur, mengakomodir harapan para perantau tersebut, padahal Aceh sangat dikenal dengan  kekayaan dan lobi - lobi internasionalnya.

"Aneh kan, para perantau mau pulang, ngurusnya macam nunggu hari kiamat, entah diurus entah tidak, padahal para perantau sudah menjerit atas apa yang mereka alami selama masa Covid 19 di Malaysia, tapi baik dewan maupun pemerintah kesannya santai - santai aja, ini saya tidak tujukan ke pribadi ya, sebab kalau dewan mestinya bukan tanggungjawab satu orang dewan saja, begitu juga pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten/kota kesannya santai aja, macam gak ada kejadian apa-apa," tandas Ronny.(RED).
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • FAKSI : Dimasa Pandemi Covid-19, Pemerintah Harus Memperhatikan Nasib Perantau

Terkini