Iklan

Diplomasi Aceh, Akmal Ibrahim : Ada Cara Cerdas Dan Bermanfaat

REDAKSI
2/05/21, 11:30 WIB Last Updated 2021-05-29T14:10:01Z

 

Akmal Ibrahim SH, Bupati Aceh Barat Daya


NOA | Abdya -  Polemik tentang Pilkada Aceh masih terus bergulir, meski Komisi Independen Pemilihan (KIP) telah menetapkan tahapan Pemilihan Kepala Daerah di Aceh rencananya dimulai pada April 2021 dan pencoblosan dijadwalkan pada 17 Februari 2022.


Bahkan, Ketua Komisi I DPR Aceh, Tgk Muhammad Yunus kepada wartawan mengaku sudah berulangkali menyurati Kementerian Dalam Negeri untuk meminta kejelasan terkait pelaksanaan Pilkada Aceh 2022. Namun, surat yang dikirim DPR Aceh belum direspons Kemendagri.


Ia menyampaikan bila pekan ini juga tidak dibalas, maka pihaknya akan mendatangi Kemendagri serta mengancam akan mendirikan tenda di depan gedung tersebut.


Menyingkapi hal itu, Akmal Ibrahim SH yang juga Bupati Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menyebutkan, pasti akan ada cara yang lebih cerdas, berkualitas, dan segar. 


"Dalam soal Pilkada misalnya, cukup Wali Nanggroe, Gubernur dan Mualem yang "Berdiplomasi" dengan Presiden atau Mendagri. Tak perlu jadi perdebatan bahkan mengajak publik untuk berkonflik," sebut Akmal. Jum'at (5/2/2021).


Terkait diplomasi Aceh, Akmal mengakui, dari muda sampai saat ini, dirinya masih  menunggu ulasan atau sekedar tulisan tentang "wajah atau perangai" diplomasi Aceh, baik dalam konteks lokal Aceh, dalam hubungan atau tatanan nasional,  atau internasional. 


"Ini penting untuk pengetahuan, referensi, atau rujukan tentang Diplomasi Aceh. Entah belum baca atau memang ngak ada," kata Akmal lagi.


Lebih lanjut, Akmal juga menyebutkan, kalaulah hubungan itu ditamsilkan sebagai hubungan suami istri, ini hal unik dan tidak normal, ketika istri minta gelang emas, tapi bicaranya ketus, keras, merajuk, malah "ngancam-ngancam" pisah ranjang. 


"Suasana itu terus berulang hampir untuk semua hal. Terakhir salah satu pihak ngancam akan mendirikan tenda di depan rumah. Cuma, ending akhir bisa ditebak dari sekarang; masuk kamar yang sama, dan tidur seranjang lagi," sebut Akmal. 


Mungkin, lanjutnya, akan berbeda bila "gelang emas" dibicarakan dalam kondisi mesra, saling hormat dan sayang, saling menjaga hak dan kewajiban, saling memberi jalan. "Dan yang penting saling mendukung semua pihak agar berkembang dengan kreatifitas dan kekhususan perangainya masing-masing," kata Akmal.(RED).


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Diplomasi Aceh, Akmal Ibrahim : Ada Cara Cerdas Dan Bermanfaat

Terkini